Peristiwa kebakaran lahan gambut yang melanda wilayah pemukiman berdampak serius terhadap ketersediaan sumber air bersih harian bagi masyarakat lokal. Tingginya paparan partikel abu serta endapan sisa pembakaran kayujelutong menyebabkan penurunan kualitas air sumur gali warga secara drastis. Sumur-sumur warga yang biasanya jernih kini mengalami perubahan warna menjadi keruh kehitaman, berbau menyengat, serta tidak lagi aman untuk dikonsumsi langsung.

Fenomena rusaknya kualitas air ini terjadi karena resapan partikel halus abu kebakaran yang terbawa air hujan masuk ke dalam lapisan akuifer dangkal. Endapan organik dari jelutong yang terbakar juga meningkatkan kadar keasaman serta zat padat terlarut di dalam sumur gali. Kondisi tersebut memaksa warga untuk mencari sumber air alternatif demi memenuhi kebutuhan sanitasi dan memasak sehari-hari.

Dampak buruk dari cemaran abu kebakaran ini tidak hanya mengganggu pasokan air bersih, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar. Penggunaan air sumur yang telah terpolusi secara terus-menerus berisiko tinggi memicu iritasi kulit, penyakit pencernaan, serta masalah kesehatan jangka panjang. Oleh sebab itu, pemeriksaan kualitas air secara berkala oleh pihak terkait menjadi sangat mendesak dilakukan di area terdampak.

Situasi krisis lingkungan ini semakin diperparah dengan tingginya konsentrasi kabut asap cair yang memicu gangguan pernapasan hentikan aktivitas bercocok tanam warga di sekitar lokasi bencana. Terhentinya kegiatan pertanian membuat kondisi perekonomian masyarakat kian terdesak di tengah perjuangan mendapatkan air bersih. Ancaman kesehatan ganda dari udara dan air ini membutuhkan penanganan darurat yang cepat dan terintegrasi.

Upaya sterilisasi dan pendistribusian tangki air bersih dari pemerintah serta relawan mulai disalurkan ke pemukiman terdampak. Warga diimbau untuk memasang alat penyaring sederhana serta menambahkan bahan penjernih air sebelum memanfaatkan air sumur gali untuk keperluan non-konsumsi. Keterlibatan pihak laboratorium lingkungan sangat diperlukan untuk menguji kelayakan air hingga benar-benar aman digunakan kembali oleh warga.

Pemulihan kondisi akuifer dangkal yang tercemar endapan jelutong memerlukan waktu yang cukup lama serta penanganan teknis yang tepat. Penutupan sumur dari paparan abu secara langsung merupakan langkah pencegahan awal yang sangat disarankan bagi warga. Kerja sama seluruh pihak dalam mengatasi krisis air bersih ini menjadi pilar utama pemulihan kesehatan dan kehidupan masyarakat pascabencana.