Angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, adalah salah satu kekayaan budaya terbesar yang dimiliki Indonesia, khususnya Jawa Barat. Keunikan angklung terletak pada cara memainkannya: satu orang hanya memainkan satu nada, sehingga harmonisasi melodi tercipta melalui kerja sama banyak orang. Fenomena budaya ini diabadikan dan dilestarikan oleh Saung Angklung Udjo (SAU) di Bandung, menjadikannya pusat pembelajaran dan pertunjukan Warisan Alat Musik Bambu yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2010. SAU bukan hanya tempat pertunjukan, tetapi juga sebuah laboratorium hidup yang memastikan Warisan Alat Musik Bambu ini terus berkembang dan dikenal secara global.
Saung Angklung Udjo didirikan pada tahun 1966 oleh pasangan suami istri Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati. Visi mereka adalah melestarikan budaya Sunda dan khususnya angklung, yang kala itu mulai terpinggirkan. Konsep utama SAU adalah pertunjukan yang melibatkan interaksi langsung dengan penonton. Dalam setiap pertunjukannya, penonton tidak hanya duduk dan menonton, tetapi juga diajak berpartisipasi, diajari cara memegang dan menggoyangkan angklung, dan kemudian bersama-sama memainkan sebuah lagu. Metode interaktif ini sangat efektif dalam menyebarkan kecintaan terhadap Warisan Alat Musik Bambu ini.
Keunikan lain dari angklung yang dipopulerkan oleh SAU adalah kemampuannya memainkan melodi dari berbagai genre musik, mulai dari lagu tradisional Sunda hingga lagu-lagu pop kontemporer dan bahkan musik klasik Eropa. Transisi dari alat musik ritual menjadi alat musik universal ini menunjukkan fleksibilitas Angklung. Dalam pertunjukannya, SAU menyajikan berbagai kesenian Sunda lainnya, termasuk tari topeng, wayang golek mini, dan ritual helaran, menciptakan sebuah paket pengalaman budaya yang lengkap dalam durasi sekitar 90 menit. Pertunjukan rutin ini diadakan setiap hari, dengan pertunjukan sore paling populer dimulai pukul 15.30 WIB.
Komitmen SAU terhadap pelestarian tidak hanya terbatas pada pertunjukan. Mereka juga aktif dalam pembuatan angklung. Proses pembuatan angklung sangat selektif, dimulai dari pemilihan jenis bambu (Awi Wulung atau Awi Tali) yang harus dipanen pada waktu yang tepat, yaitu sekitar pukul 06.00 pagi di hari-hari tertentu, untuk mendapatkan kualitas suara terbaik. Anak-anak dan pemuda setempat dididik untuk menjadi pemain, pembuat, dan pelatih angklung, memastikan keterampilan dan pengetahuan ini diteruskan. Bahkan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung pada hari Rabu, 17 Januari 2024, telah menjalin kerja sama dengan SAU untuk memasukkan pengajaran angklung sebagai ekstrakurikuler wajib di beberapa sekolah dasar, mengukuhkan peran angklung sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.
